Scroll Untuk Membaca Artikel
banner 468x60
banner 468x60
BeritaRegional

Transformasi Lele Sei Manasib di Tangan Rizky Lewat Inovasi Pakan Mandiri yang Dongkrak Omzet Puluhan Juta

Avatar photo
42
×

Transformasi Lele Sei Manasib di Tangan Rizky Lewat Inovasi Pakan Mandiri yang Dongkrak Omzet Puluhan Juta

Sebarkan artikel ini

ROHIL, [Gaperta.id] – Bagi para pembudidaya ikan di Sei Manasib, setiap memasuki masa panen lele bukan selalu menjadi momen yang menghadirkan rasa lega. Di balik riak air kolam dan padatnya aktivitas budidaya, tersimpan kecemasan panjang akibat tingginya biaya produksi dan harga jual yang kerap tidak menentu.

Kondisi itu pernah dirasakan langsung oleh Muhammad Rizky (31), Sekretaris BUMDes sekaligus penggerak Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Lele Sei Manasib. Bagi Rizky, usaha budidaya lele sempat terasa seperti perjuangan tanpa kepastian. Harga pakan yang terus melambung tinggi seakan berkejaran dengan harga jual ikan yang sering dimainkan tengkulak, membuat keuntungan kelompok semakin tergerus.

“Antara biaya operasional yang terus membengkak dan margin keuntungan yang makin tipis, kami sempat berada di titik lelah. Bukan hanya lelah secara fisik karena merawat ikan setiap hari, tetapi juga lelah secara mental karena merasa kerja keras kami belum memberikan hasil yang pasti,” ungkap Rizky.

Berangkat dari kondisi tersebut, Rizky menyadari bahwa situasi itu tidak bisa terus dibiarkan. Ia percaya bahwa kelompok budidaya di Sei Manasib harus keluar dari ketergantungan dan mulai membangun sistem usaha yang lebih mandiri.

Melalui Program Perikanan Riau PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), harapan baru mulai tumbuh. Kehadiran program pemberdayaan ini tidak hanya memberikan dukungan fasilitas, tetapi juga membuka ruang pembelajaran dan pendampingan bagi kelompok pembudidaya untuk membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan.

Sebagai salah satu anggota kelompok yang paling vokal mendorong perubahan, Rizky bersama rekan-rekannya melakukan perjalanan ke Desa Bangko Jaya. Di sana, mereka belajar langsung dari kelompok binaan yang telah berhasil memproduksi pakan mandiri untuk budidaya lele serta mampu menembus pasar distribusi Dapur SPPG (Satuan Pelayanan Program Gizi).

Jangan Lewatkan :  Mendekati Akhir Presiden Jokowi Sapu Bersih Road Show Ke Sulteng dan Gorontalo

Dari pengalaman tersebut, Rizky mulai melihat peluang besar dalam pemanfaatan ikan rucah hasil tangkapan sampingan yang sebelumnya sering dianggap limbah pesisir sebagai bahan baku pakan alternatif.

Namun, perjalanan menuju keberhasilan tidak berjalan mudah. Pada tahap awal uji coba produksi pakan mandiri, formulasi yang mereka buat justru mengalami kegagalan. Pelet yang dicetak hancur dan berubah menjadi serbuk ketika ditebar ke kolam sehingga berdampak pada kualitas air.

“Mesin vertikal itu membutuhkan tingkat presisi yang tinggi. Saya sempat salah dalam metode pengaturan putaran pisau sehingga pelet tidak bisa memadat dengan sempurna,” kenang Rizky.

Kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Rizky terus melakukan percobaan, mulai dari menyesuaikan kadar kelembaban adonan hingga melakukan kalibrasi mesin secara berulang. Hingga akhirnya, upaya tersebut membuahkan hasil ketika mesin berhasil menghasilkan butiran pelet yang padat dan berkualitas.

Keberhasilan memproduksi pakan mandiri menjadi titik balik bagi kelompok budidaya lele Sei Manasib. Biaya operasional yang sebelumnya membebani kini dapat ditekan secara signifikan, sementara kualitas nutrisi pakan tetap terjaga.

Tidak berhenti pada inovasi pakan, Rizky juga mulai mengembangkan strategi pemasaran kelompok. Ilmu tata niaga yang ia pelajari kemudian diaplikasikan untuk membuka jalur distribusi langsung ke Dapur SPPG dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis.

Jangan Lewatkan :  PT. Makmur Indah Semarak Internasion (PT. MISI) Mengkangkangi Undang-undang No. 32 Tahun 2009 Tentang Pengaturan Limbah, Serta Lemahnya Pengawasan DLH Kabupaten Muaro Jambi.

Hasilnya, dalam satu siklus produksi kelompok mampu menghasilkan sekitar 2,3 ton lele, dengan 519 kilogram di antaranya terserap langsung untuk kebutuhan program penyediaan pangan bergizi. Dalam tiga bulan terakhir, kelompok ini berhasil membukukan omzet hingga Rp32 juta.

Perubahan tersebut perlahan menghapus rasa minder yang sebelumnya membayangi para pembudidaya. Kini mereka berdiri lebih percaya diri sebagai kelompok usaha masyarakat yang produktif dan mandiri, sekaligus menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan lokal.

Manager CID Regional 1 PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan bahwa keberhasilan Pokdakan Lele Sei Manasib menunjukkan bagaimana program pemberdayaan masyarakat dapat menciptakan dampak ekonomi yang nyata apabila dijalankan secara konsisten dan berbasis potensi lokal.

Menurutnya, PHR akan terus mendorong hadirnya program-program yang mampu memperkuat kapasitas masyarakat agar lebih mandiri dan berdaya saing.
“PHR berkomitmen untuk terus menghadirkan program pemberdayaan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun penguatan kapasitas kelompok usaha lokal. Kami percaya, kemandirian masyarakat menjadi fondasi penting dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa dukungan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan terhadap operasional industri hulu migas memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional. “Kami mengajak seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan untuk terus mendukung kelancaran operasional industri hulu migas. Dukungan tersebut sangat penting dalam menjaga keberlanjutan operasi dan ketahanan energi nasional, di mana PHR menjadi salah satu penopang utama produksi migas Indonesia,” tambahnya.

Jangan Lewatkan :  Tingkatkan Zona Integritas, Kementerian ATR/BPN Laksanakan Penilaian Mandiri dan Berikan Penghargaan WTAB

Kini, bagi Rizky, kolam lele bukan lagi sekadar tempat mencari penghidupan. Di balik air kolam yang tenang, tumbuh keyakinan baru bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari perjuangan.

“Air di kolam boleh saja menyusut saat kemarau panjang, tetapi tekad kami untuk mandiri tidak akan pernah ikut mengering. Dari keterbatasan, kami belajar bahwa selalu ada jalan bagi orang-orang yang mau terus berusaha dan tidak menyerah,” pungkasnya.

# # # # # #
Tentang PHR Zona Rokan

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021.

Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan Zona Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041.

Daerah operasi Zona Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). Zona Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina.

Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.