BELAWAN, [Gaperta.id] – Komandan Komando Daerah Angkatan Laut I Laksamana Muda TNI Deny Septiana, S.I.P., M.A.P., membuka secara resmi Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) LV Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI Tahun Anggaran 2026. Kegiatan yang digelar pada 8–12 Juni 2026 ini diikuti 157 perwira siswa yang terdiri atas 73 personel TNI AD, 38 TNI AL, 27 TNI AU, 15 personel Polri, serta lima perwira dari negara sahabat, yakni Australia, India, Malaysia, Papua Nugini, dan Singapura. Dalam sambutannya, Wakil Komandan Sesko TNI Mayjen TNI Teguh Pudji Rahardjo, S.I.P., M.Han., menyampaikan apresiasi kepada Komandan Kodaeral I beserta jajaran atas dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan sekaligus menegaskan bahwa pendidikan Sesko TNI kini menerapkan sistem blended learning yang mengombinasikan pembelajaran offline dan online guna meningkatkan efektivitas pendidikan dan kualitas lulusan. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Jos Sudarso, Makodaeral I Belawan Belawan, Senin (8/6/2026).
Komandan Kodaeral I menegaskan bahwa KKDN merupakan bagian penting dalam proses pendidikan Sesko TNI untuk memperluas wawasan strategis, meningkatkan kemampuan analisis, serta memperdalam pemahaman terhadap dinamika lingkungan strategis di daerah. Melalui kegiatan ini, para perwira siswa diharapkan memperoleh gambaran nyata mengenai tantangan, peluang, serta berbagai upaya yang dilakukan TNI, pemerintah daerah, dan seluruh komponen bangsa dalam menjaga stabilitas keamanan dan mendukung pembangunan nasional. Ia juga menyoroti posisi strategis wilayah kerja Kodaeral I yang berada di jalur pelayaran internasional sekaligus menghadapi berbagai tantangan keamanan maritim dan ancaman nonmiliter.
Tahun ini, KKDN mengangkat tema “Penanganan Ancaman Megathrust Dalam Perspektif Kebijakan Nasional, Pertahanan Negara dan Tata Kelola Pemerintah Daerah”. Tema tersebut dipilih sebagai langkah antisipatif terhadap potensi gempa bumi dan tsunami akibat zona megathrust di Pulau Sumatera yang berada pada kawasan Cincin Api Pasifik. Wadan Sesko TNI menegaskan bahwa ancaman megathrust merupakan ancaman nonmiliter yang memerlukan regulasi terpadu, sistem mitigasi yang kuat, serta koordinasi lintas sektor. Dari perspektif pertahanan negara, penanganannya membutuhkan keterlibatan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan seluruh sumber daya nasional secara terintegrasi, mulai dari mitigasi, respons darurat hingga pemulihan pascabencana, sementara pemerintah daerah berperan sebagai garda terdepan dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan memperkuat ketahanan nasional.
Pelaksanaan KKDN dibagi ke dalam dua wilayah kajian, yakni Provinsi Sumatera Utara yang diikuti 60 peserta dan Provinsi Sumatera Barat sebanyak 62 peserta, sementara 35 peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring. Kegiatan ini merupakan bagian dari kurikulum pendidikan strategis Sesko TNI yang bertujuan memperluas wawasan kebangsaan, meningkatkan kemampuan analisis strategis, serta memperkuat kapasitas kepemimpinan melalui pengamatan langsung terhadap kondisi daerah, tata kelola pemerintahan, dan dinamika pembangunan wilayah. Dari hasil kegiatan tersebut, para peserta diharapkan mampu menghasilkan kajian dan rekomendasi yang relevan bagi pengambilan kebijakan di bidang pertahanan, keamanan, dan pembangunan nasional.














