BELAWAN, [Gaperta.id] – Insiden tragis kembali menimpa Pekerja Migran Indonesia (PMI) non-prosedural. Sebuah kapal yang mengangkut 37 Warga Negara Indonesia (WNI) dilaporkan tenggelam di perairan Segari – Pulau Pangkor, Negara Bagian Perak, Malaysia. Hingga kini, 4 orang dinyatakan meninggal dunia dan 14 lainnya masih dalam pencarian.
Rabu (13/5/2026)
Peristiwa ini diduga berkaitan dengan praktik pengiriman tenaga kerja ilegal melalui jalur laut dari Belawan, Medan, Sumatera Utara menuju Malaysia.
Kapal Dihantam Ombak, Pecah di Tengah Laut
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari otoritas Malaysia, kapal berangkat pada 9 Mei 2026 sekitar pukul 23.00 WIB dari Belawan.
Namun nahas, pada 10 Mei 2026 malam, kapal tersebut dihantam cuaca buruk di sekitar Pulau Mentagor, Manjung. Gelombang tinggi menyebabkan badan kapal pecah dan akhirnya tenggelam.
Para penumpang yang panik berupaya menyelamatkan diri dengan bertahan menggunakan benda-benda terapung di tengah laut.
23 Korban Selamat Diselamatkan Nelayan,
Sebanyak 23 korban selamat berhasil ditemukan oleh nelayan dari arah Hutan Melintang pada 11 Mei 2026 dini hari.
Korban kemudian dievakuasi dan dikawal oleh Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) menuju markas Pasukan Polis Marin (PPM) di Kg. Acheh, Perak untuk penanganan lebih lanjut.
Dari hasil pendataan awal, 16 laki-laki
7 perempuan, Mayoritas tidak memiliki dokumen resmi, Hanya 5 orang memiliki paspor yang sudah tidak berlaku
4 Korban Tewas, 14 Masih Dicari, Hingga laporan ini diterima, sebanyak 4 WNI ditemukan meninggal dunia dan saat ini berada di Hospital Manjung untuk proses identifikasi.
Sementara itu, 14 korban lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian oleh tim gabungan APMM dan PPM.
Operasi pencarian dilakukan secara intensif setiap hari, namun dihentikan sementara pada malam hari karena faktor keselamatan.
Korban Selamat Ditahan, Kasus Diselidiki,
Seluruh korban selamat saat ini diamankan di lokap Balai Polis Seri Manjung untuk kepentingan penyelidikan.
Kasus ini ditangani oleh aparat kepolisian Malaysia dan diselidiki berdasarkan pelanggaran hukum imigrasi terkait masuk secara ilegal.
Selain itu, otoritas Malaysia juga mendalami kemungkinan keterlibatan sindikat penyelundupan manusia yang memfasilitasi keberangkatan para WNI tersebut.
KBRI Kuala Lumpur Lakukan Pendampingan,
Penanganan kasus ini turut melibatkan KBRI Kuala Lumpur melalui Atase Polri dan fungsi konsuler.
Pemerintah Indonesia saat ini fokus pada:
Identifikasi korban meninggal
Perlindungan korban selamat
Proses pemulangan WNI
Penelusuran jaringan pengiriman ilegal
Migrasi Ilegal Masih Tinggi, Risiko Mematikan,
Insiden ini kembali menjadi peringatan keras atas tingginya praktik migrasi non-prosedural ke Malaysia, khususnya melalui jalur laut Sumatera Utara.
Penggunaan kapal kecil tanpa standar keselamatan, ditambah kondisi cuaca ekstrem di Selat Malaka, menjadikan perjalanan ilegal ini sangat berbahaya dan kerap memakan korban jiwa.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak tergiur jalur cepat bekerja ke luar negeri tanpa prosedur resmi.














