Scroll Untuk Membaca Artikel
banner 468x60
banner 468x60
BeritaNasional

Ketangguhan Kepemimpinan Paisal – Sugiyarto di Tengah Efisiensi Anggaran, Endingnya Lanjutkan Pembangunan

Avatar photo
23
×

Ketangguhan Kepemimpinan Paisal – Sugiyarto di Tengah Efisiensi Anggaran, Endingnya Lanjutkan Pembangunan

Sebarkan artikel ini

DUMAI, [Gaperta.id] — Dikenal dengan gaya kepemimpinan nya yang sederhana dan dekat dengan masyarakat, Wali Kota H Paisal , SKM., MARS., adalah salah satu figur politik Dumai mantan birokrat yang perjalanan kariernya mencerminkan dedikasi terhadap pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur.

Karir birokrat yang dimulai dari pegawai kelas bawah hingga menjadi Walikota Dumai dua periode, ia telah mengukir sejumlah pencapaian penting yang menunjukkan kualitas kepemimpinannya.

Selain menjadi walikota, kiprah Paisal di dunia politik telah memuncak sebagai ketua Partai Nasdem Dumai. Di periode ke dua menjadi Walikota Dumai berpasangan dengan Sugiyarto sebagai Wakil Walikota Dumai, ia belum dilantik sudah banyak program yang direncanakan sudah terparkir di sejumlah dinas bakal dieksekusi di lima tahun mendatang.

Pemimpin ini menjelma menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang agresif, memaksa statistik tunduk pada narasi kesejahteraan. Namun, di sebalik tumpukan piagam yang diterima dari presiden dan menteri merupakan hasil kinerja lima tahun.

Deretan piagam penghargaan yang diraih sepanjang 2025 tampak masih berkilau dan tersusun rapi. Mulai dari penghargaan Universal Health Coverage (UHC) hingga predikat Pembangunan Daerah Terbaik I di Riau, semuanya seolah mengonfirmasi satu hal duet Paisal-Sugiyarto sedang berada di atas angin.

Pencapaian pembangunan makro selama lima tahun menjadi penilaian bagaimana ia bekerja dengan sepenuh hati.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) seringkali menjadi momok bagi kepala daerah yang menjadi rapor kumulatif kesehatan, pendidikan, dan daya beli. Di tangan Paisal-Sugiyarto, IPM Dumai melakukan lompatan yang cukup berani. Dimulai dari angka 74,75 pada 2021, ia merangkak konsisten hingga menyentuh 77,58 pada akhir 2025.

Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Ia adalah cerminan dari kebijakan yang “memaksa” perubahan.

Lihat saja sektor kesehatan; dengan beroperasinya enam rumah sakit baru dan tercapainya kepesertaan Jaminan Kesehatan Semesta (UHC) sebesar 98,55%, Paisal seolah ingin memastikan bahwa tak ada warganya yang jatuh miskin hanya karena jatuh sakit.

Di sektor pendidikan, Harapan Lama Sekolah yang mencapai 13,36 tahun memberi sinyal bahwa anak-anak Dumai kini punya modal untuk bersaing di luar pagar-pagar pabrik industri pengolahan.

Dumai adalah anomali yang menarik. Sebagai kota yang 60,11% struktur ekonominya ditopang oleh industri pengolahan, risiko ketimpangan sosial selalu mengintai. Namun, duet ini tampaknya piawai memasang “jaring pengaman”.

Data kemiskinan menjadi buktinya. Di saat rata-rata nasional masih tertatih di angka 8,47%, Dumai berhasil menekan kemiskinan hingga ke level 3,08% pada 2025. Penurunan ini berjalan beriringan dengan penyusutan angka pengangguran terbuka dari 6,29% menjadi 4,51%.

Yang luput dari amatan publik namun terekam jelas dalam data adalah pergeseran struktur kelas pekerja. Muncul tren menarik: kelompok wiraswasta di Dumai naik signifikan menjadi 30,45%. Ini mengindikasikan bahwa kepemimpinan Paisal-Sugiyarto berhasil merangsang ekosistem ekonomi mandiri, sehingga warga tak lagi hanya menggantungkan nasib menjadi buruh kasar di pelabuhan atau pabrik CPO.

Investasi Mengalir Mencapai Rp47 Triliun

Pertumbuhan ekonomi Dumai pada triwulan III 2025 yang mencapai 6,36% jauh melampaui pertumbuhan nasional adalah buah dari kebijakan ramah investasi. Selama periode 2021-2025, total investasi yang mengalir ke kota ini menembus angka Rp47,3 triliun.

Angka fantastis ini dikunci dengan pengelolaan keuangan yang disiplin. Indeks Gini yang tertahan di angka 0,328 menunjukkan bahwa meski uang triliunan masuk, jurang antara si kaya dan si miskin di Dumai tidak menganga lebar. Pertumbuhan ini bersifat inklusif, bukan sekadar pertumbuhan semu yang hanya dinikmati segelintir elite.

Jangan Lewatkan :  Hari Bakti Pemasyarakatan ke-61, Bapas Dumai Resmi Fungsi Kembali

Kepemimpinan Paisal-Sugiyarto tampaknya ingin meninggalkan warisan (legacy) yang kuat. Rentetan penghargaan dari kementerian dan lembaga sepanjang 2025, termasuk apresiasi atas dukungan hukum (Posbankum) dan pengelolaan pajak daerah, hanyalah aksesori dari substansi utama Dumai kini lebih sehat, lebih terdidik, dan lebih makmur dibanding sepuluh tahun lalu.

Namun, tantangan ke depan tetaplah terjal. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang bisa mengguncang sektor industri pengolahan kapan saja, ketahanan ekonomi domestik Dumai akan terus diuji. Untuk saat ini, Paisal dan Sugiyarto bisa sedikit bernapas lega; angka-angka makro telah bicara, dan lagi lagi mereka berada di pihak yang menang.

Namun, di tengah gemerlap angka pertumbuhan ekonomi dan deretan plakat penghargaan, kepemimpinan Paisal-Sugiyarto masih berhadapan dengan satu musuh klasik yang tak kunjung surut air. Bagi masyarakat Dumai, banjir bukan sekadar anomali cuaca, melainkan persoalan eksistensial yang kerap melumpuhkan urat nadi kota di musim penghujan maupun saat pasang keling tiba.

Paisal dan Sugiyarto tampaknya paham bahwa Indeks Pembangunan Manusia yang tinggi akan terasa hambar jika warga masih harus berjibaku dengan genangan di ruang tamu mereka. Inilah yang membuat penanganan banjir diletakkan sebagai prioritas absolut yang akan terus digesa dan dituntaskan. Saat ini sudah dibangun tanggul di segmen satu dengan nilai mencapai Rp20 miliar yang akan berlanjut pada segmen 2 dan seterusnya.

Di tengah upaya kerja keras tersebut, riuh rendah kritik dari ruang publik tak pernah berhenti bergaung. Namun, alih-alih bersikap reaktif, Paisal-Sugiyarto memandangnya sebagai dialektika yang sehat dalam sebuah negara demokrasi. Mereka menegaskan bahwa kritik dan saran adalah hal lumrah, bahkan menjadi “imun” untuk memastikan realisasi program kerja tetap berada di rel yang tepat.

“Segala masukan yang membangun akan selalu kami terima dengan tangan terbuka. Kepemimpinan kami bukanlah antikritik,” tegas H. Paisal

Keberhasilan pembangunan sebuah kota diukur dari capaian indikator makro pembangunan. Indikator digunakan untuk menilai kinerja pembangunan kota secara menyeluruh baik dari sisi Sumber Daya Manusia, Ekonomi dan Sosial.

Indikator makro tersebut meliputi Indeks Pembangunan Manusia, Kondisi Kemiskinan, Kondisi Ketenagakerjaan, Ketimpangan Pendapatan, dan Pertumbuhan Ekonomi.

IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk).

IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya atau dengan kata lain mengukur pencapaian hasil pembangunan dari suatu daerah dalam tiga dimensi pembangunan yaitu lamanya hidup, pengetahuan/tingkat Pendidikan dan standar hidup layak.

Adapun capaian Indeks Pembangunan Manusia Kota Dumai dalam kurun waktu tahun 2021-2025 serta perbandingannya terhadap Provinsi Riau dan nasional.

Bahwa capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Dumai menunjukkan tren peningkatan yang konsisten selama periode 2021– 2025.

IPM Dumai meningkat dari 74,75 pada tahun 2021 menjadi 77,58 pada tahun 2025. Peningkatan ini mencerminkan perbaikan kualitas hidup masyarakat Kota Dumai yang ditopang oleh kemajuan pada dimensi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.

Secara komparatif, IPM Kota Dumai berada di atas rata-rata IPM Provinsi Riau maupun IPM Nasional pada seluruh periode pengamatan.

Hal ini mengindikasikan bahwa kinerja pemerintah daerah dalam pembangunan manusia di Kota Dumai relatif lebih baik dan kompetitif dibandingkan wilayah sekitarnya maupun nasional.

Selanjutnya kata Paisal dalam rangka pembangunan dimensi kesehatan, selama kurun waktu 2 tahun di Kota Dumai telah berdiri 6 rumah sakit yang terdiri dari 1 Rumah Sakit milik pemerintah daerah, 1 Rumah Sakit milik Polri, 1 Rumah Sakit milik Pertamina dan 3 Rumah Sakit milik swasta.

Jangan Lewatkan :  Polri Sahabat Anak, Ditpolairud Polda Jambi Gelar Lomba Layang-Layang Ceria di Tepian Sungai Batanghari

Di samping rumah sakit yang ada di Kota Dumai juga telah berdiri banyak klinik-klinik kesehatan yang dikelola oleh swasta yang tersebar di seluruh kecamatan Kota Dumai.

Hal ini menandakan pelayanan kesehatan di Kota Dumai baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta telah menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat dan sebagian besar telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Di samping hal tersebut kondisi saat ini menggambarkan minat sektor swasta untuk berinvestasi pada bidang pelayanan kesehatan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap kualitas kesehatan.

Dalam rangka pembangunan dimensi pendidikan di Kota Dumai, pemerintah Kota Dumai juga telah meningkatkan jumlah sarana dan prasarana
pendidikan dasar setiap tahun.

Pada tahun 2025 PAUD yang ada di Kota Dumai berjumlah 101 sekolah, SD berjumlah 113 sekolah, SMP berjumlah 43 sekolah, SMA
berjumlah 17 sekolah, SMK berjumlah 19 sekolah, MA berjumlah 11 sekolah. Sedangkan untuk pendidikan tinggi Kota Dumai telah memiliki 6 perguruan tinggi swasta.

Kondisi ini sangat mempengaruhi peningkatan angka rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah di Kota Dumai.

Lain itu kemiskinan adalah kondisi seseorang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar makanan maupun bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.

Penduduk dikategorikan miskin jika memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Adapun capaian Tingkat Kemiskinan Kota Dumai dalam kurun waktu tahun 2021-2025 serta perbandingannya terhadap Provinsi Riau dan Nasional.

Tingkat kemiskinan di Kota Dumai menunjukkan kecenderungan terus menurun dari tahun ke tahun. Persentase penduduk miskin berkurang dari 3,42 persen pada tahun 2021 menjadi 3,08 persen pada tahun 2025.

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan tingkat kemiskinan Provinsi Riau dan nasional pada periode yang sama.

Rendahnya tingkat kemiskinan di Kota Dumai mencerminkan efektivitas kebijakan perlindungan sosial, peningkatan aktivitas ekonomi, serta akses masyarakat terhadap

sumber-sumber penghidupan yang lebih baik. Namun demikian, upaya penanggulangan kemiskinan tetap perlu diarahkan pada kelompok rentan agar penurunan kemiskinan bersifat inklusif dan berkelanjutan.

Selain itu tingkat pengangguran terbuka adalah persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja. Angkatan Kerja adalah penduduk usia kerja 15 tahun ke atas yang bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja, dan pengangguran.

Pengangguran terdiri dari penduduk yang aktif mencari pekerjaan; penduduk yang sedang mempersiapkan usaha/pekerjaan baru; penduduk yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan; serta kelompok penduduk yang tidak aktif mencari pekerjaan dengan alasan sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Dumai mengalami penurunan signifikan dari 6,29 persen pada tahun 2021 menjadi 4,51 persen pada tahun 2025. Tren penurunan ini menunjukkan membaiknya kondisi pasar kerja dan meningkatnya kemampuan perekonomian daerah dalam menyerap tenaga kerja baik di sektor formal maupun sektor informal.

Namun tidak bisa dipungkiri dengan status sebagai kota industri Dumai menjadi tujuan para pencari kerja dari daerah sekitarnya dan provinsi lain.

Selama kurun waktu 2021-2025, TPT Kota Dumai masih berada di atas TPT Provinsi Riau, namun cenderung terus turun dan selalu lebih rendah dibandingkan rata- rata nasional.

Jangan Lewatkan :  Taruna Akademi Militer Berprestasi Gemilang dalam Kejuaraan Renang Open Gubernur Cup 2024

Kondisi ini menandakan pemerintah Kota Dumai terus berupaya melakukan penguatan kualitas angkatan kerja dan penciptaan lapangan kerja, terutama bagi angkatan kerja muda dan lulusan baru.

Berdasarkan Indeks Gini, tingkat ketimpangan pendapatan di Kota Dumai tergolong ringan. Nilai Indeks Gini terus menurun dari 0,345 pada tahun 2021 menjadi 0,328 pada tahun 2024. Untuk tahun 2025, data Kota Dumai masih belum dirilis oleh BPS.

Secara umum, ketimpangan pendapatan di Kota Dumai lebih rendah dibandingkan tingkat ketimpangan nasional. Kondisi ini menunjukkan distribusi pendapatan yang relatif lebih merata, meskipun adanya potensi guncangan ekonomi akibat situasi perekonomian global dan geopolitik global yang menjadi ancaman bagi negara-negara berkembang.

Untuk pertumbuhan ekonomi merupakan perkembangan Produksi Barang dan Jasa di suatu wilayah perekonomian pada tahun tertentu terhadap nilai tahun sebelumnya yang dihitung berdasarkan nilai Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan.

Adapun capaian Pertumbuhan Ekonomi Kota Dumai dalam kurun waktu tahun 2021-2025 serta perbandingannya terhadap Provinsi Riau dan Nasional
Pertumbuhan ekonomi Kota Dumai menunjukkan kinerja yang relatif kuat dan kompetitif. Pada periode 2021–2024, pertumbuhan ekonomi Dumai berada pada kisaran 5,98–5,02 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau
dan nasional.

Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi triwulanan (year-on-year) menunjukkan tren meningkat, dari 4,80 persen pada Triwulan I menjadi 6,36 persen pada Triwulan

Secara umum, struktur perekonomian Kota Dumai pada periode 2021–2025 masih di dominasi oleh kontribusi sektor Industri Pengolahan dengan kontribusi lebih dari 60 persen dengan pertumbuhan kontribusi yang stabil, sehingga sektor ini terus menjadi penopang utama PDRB Kota Dumai. Dominasi dari aktivitas sektor industri pengolahan ini juga memberikan dampak positif pada beberapa sektor seperti sektor Transportasi dan Pergudangan; konstruksi; Pengadaan Listrik dan Gas yang mengalami peningkatan signifikan dan menggambarkan adanya penguatan infrastruktur energi sebagai pendukung aktivitas industri dan rumah tangga; sektor Akomodasi dan Makan Minum
serta Perdagangan dan Reparasi Mobil.

Aktivitas sektor industri pengolahan di samping menyerap tenaga kerja juga menciptakan dampak-dampak positif lain terhadap UMKM seperti membuka peluang kemitraan, memperluas pasar, dan meningkatkan kapasitas UMKM. Industri pengolahan menjadi motor penggerak UMKM. Ketika UMKM dilibatkan dalam rantai produksi, dampaknya terlihat pada peningkatan PDRB, penurunan pengangguran, dan perbaikan
pemerataan pendapatan.

Kota Dumai sebagai pintu gerbang ekonomi di pantai timur Sumatera telah menjadi tujuan investasi yang menarik bagi investor dalam maupun luar negeri. Keduanya berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing daerah.

Selama kurun waktu 2021-2025 Pemerintah Kota Dumai menunjukkan kinerja investasi PMA dan PMDN yang fluktuatif namun cenderung positif. Kinerja ini tercapai sebagai hasil dari penerapan OSS, iklim investasi yang kondusif dan efisiensi perijinan pada pelayanan terpadu satu pintu yang meningkatkan daya saing regional Kota Dumai baik di Provinsi Riau maupun di Wilayah Regional Sumatra.

Selama kurun waktu 2025 sampai dengan saat ini Pemerintah Kota Dumai telah menerima penghargaan (Tabel 8) dari pemerintah pusat dan provinsi atas prestasi Pemerintah Kota Dumai dalam penyelenggaraan pemerintah daerah.

Adapun penghargaan yang diterima berasal dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, NonGovernmental Organization (NGO) dan jurnalis dengan kategori sebagai berikut: Tata Kelola Pemerintahan dan Keuangan, Pelayanan Publik dan Kesehatan, Pendidikan dan Keluarga Berkualitas, Kepemimpinan Berintegritas.

Penulis: Efendy Sitompul