Jakarta, [Gaperta.id] –
Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas di Jakarta menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Kepolisian Daerah Metro Jaya, Jumat (29/8/2025) sore, aksi dimulai sekitar pukul 15.30 WIB.
Dan merupakan bentuk protes terhadap tindakan represif aparat saat mengamankan demonstrasi sehari sebelumnya yang mengakibatkan ratusan orang luka-luka, penangkapan besar-besaran, bahkan jatuhnya korban jiwa.
Lanjut, dalam aksi tersebut, kelompok mahasiswa dari Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta turut hadir dengan membawa spanduk bertuliskan “Bebaskan kawan-kawan kami” dan “Batalkan tunjangan DPR.”
Orasi BEM STFT Jakarta dipimpin oleh Jefri Lorens A. Sine, mahasiswa Magister Teologi, yang membacakan langsung Surat Pernyataan Sikap BEM di depan, selesai membacakan surat pernyataan sikap, Jefri menutup orasinya dengan kantor Polda Metro Jaya.
Surat tersebut berisi empat tuntutan utama mahasiswa:
1. Stop Represifitas apart terhadap aksi-aksi demonstrasi rakyat dan mahasiswa.
2. Adili aparat pelaku penabrakan driver ojol (Affan Kurniawan).
3. Bebaskan kawan-kawan kami yang ditangkap pada aksi demonstrasi.
4. Batalkan tunjangan-tunjangan yang diberikan kepada DPR.
Lantang meneriakkan pekikan “Hidup Mahasiswa!” sebanyak dua kali, yang kemudian disambut sorak-sorai dukungan dari massa aksi.
Aksi mahasiswa ini juga dipimpin oleh Ketua BEM STFT Jakarta, Valent Jeremi Pakpahan, bersama Sekretaris Sheren Loviana Sophian. Mereka menegaskan bahwa mahasiswa tidak akan tinggal diam melihat demokrasi direpresi.
Menariknya, aksi BEM STFT Jakarta ini mendapat dukungan penuh dari pihak kampus. Sebelum berangkat menuju lokasi aksi, Prof. Binsar Jonathan Pakpahan, Ph.D yang adalah Ketua STFT Jakarta memberikan arahan langsung kepada para mahasiswa agar tetap menjaga sikap, solidaritas, serta nama baik almamater selama menyuarakan aspirasi di ruang publik.
Dukungan moral dan fasilitasi dari kampus membuat mahasiswa semakin mantap untuk bergabung bersama ribuan mahasiswa lain dari berbagai universitas.
Demonstrasi gabungan tersebut berlangsung penuh semangat dengan orasi bergantian dari berbagai universitas.
Mahasiswa menyerukan persatuan kaum intelektual, buruh, dan tani untuk memperjuangkan keadilan serta menolak kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil.