BELAWAN, [Gaperta.id] — Di tengah perubahan peta perdagangan internasional, ketidakpastian ekonomi global, dan meningkatnya tuntutan efisiensi rantai pasok, aktivitas kepelabuhanan di Sumatera Utara menunjukkan perkembangan positif. Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung terus memainkan peran penting sebagai penghubung kegiatan industri, perdagangan, dan distribusi barang dari wilayah Sumatera menuju pasar domestik maupun internasional.
PT Prima Multi Terminal (PMT) mencatat realisasi arus peti kemas sebesar 535.494 twenty-foot equivalent units (TEUs) secara kumulatif hingga September 2026. Capaian tersebut meningkat sekitar 4 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Perkembangan itu menjadi gambaran bahwa kebutuhan layanan logistik dan aktivitas pergerakan barang melalui dua kawasan pelabuhan tersebut tetap tumbuh, meskipun sektor perdagangan internasional masih menghadapi berbagai tantangan.
Berdasarkan keterangan perusahaan yang disampaikan dalam laporan tertanggal Sabtu (17/10/2026), pertumbuhan aktivitas peti kemas tersebut berkaitan dengan pergerakan distribusi domestik, kegiatan ekspor komoditas, serta pengiriman produk hasil hilirisasi industri dari sejumlah wilayah di Sumatera.
Capaian ini sekaligus memperlihatkan semakin pentingnya kemampuan pelabuhan dalam menyediakan layanan yang efisien, terintegrasi, dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dunia usaha.
Kuala Tanjung Tunjukkan Pertumbuhan Menonjol, Layanan Internasional Melonjak 255 Persen
Salah satu perkembangan paling menonjol tercatat pada aktivitas peti kemas internasional di Terminal 2 Kuala Tanjung.
Hingga September 2026, volume layanan internasional di terminal tersebut mencapai 32.785 TEUs, meningkat sekitar 255 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan ini menjadi catatan penting dalam perkembangan pelayanan peti kemas internasional di kawasan Kuala Tanjung.
Sementara itu, secara keseluruhan, aktivitas bongkar muat peti kemas di terminal tersebut mencapai 57.455 TEUs atau tumbuh sekitar 12 persen secara tahunan.
Perbedaan laju pertumbuhan antara layanan internasional dan total aktivitas terminal menunjukkan adanya perubahan komposisi pergerakan peti kemas yang menarik untuk dicermati.
Peningkatan layanan internasional juga membuka ruang bagi penguatan konektivitas perdagangan, terutama apabila pertumbuhan volume tersebut dapat dijaga melalui ketersediaan layanan pelayaran yang berkelanjutan dan dukungan jaringan transportasi menuju kawasan industri.
Namun, pertumbuhan persentase yang tinggi tetap perlu dipahami bersama dengan besaran volume aktual, kapasitas terminal, dan keberlanjutan permintaan layanan pada periode berikutnya.
Dengan demikian, peningkatan aktivitas tidak hanya menjadi capaian statistik, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi penguatan pelayanan logistik yang memberikan manfaat bagi pengguna jasa.
Barang Nonpeti Kemas Meningkat 122 Persen, Aktivitas Industri Jadi Penopang Penting
Perkembangan positif juga terlihat pada layanan barang nonpeti kemas di Terminal Kuala Tanjung.
Sepanjang Januari hingga September 2026, PMT mencatat volume penanganan barang nonpeti kemas mencapai 867.821 ton, melonjak sekitar 122 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut memperlihatkan meningkatnya aktivitas penanganan barang di luar layanan peti kemas, termasuk komoditas yang berkaitan dengan kebutuhan distribusi dan sektor industri.
Sebagai wilayah yang memiliki kegiatan perkebunan, pengolahan komoditas, manufaktur, dan perdagangan, Sumatera membutuhkan infrastruktur logistik yang mampu mendukung pergerakan barang secara efektif.
Ketersediaan fasilitas pelabuhan, kelancaran akses transportasi darat, serta koordinasi antarpelaku logistik menjadi unsur penting dalam memastikan barang dapat bergerak dari daerah produksi menuju pusat distribusi maupun pasar tujuan.
Dalam konteks itu, perkembangan Kuala Tanjung memiliki arti penting bagi penguatan hubungan antara pelabuhan dan kawasan penyangga ekonomi atau hinterland Sumatera.
Meski demikian, besarnya pertumbuhan volume belum dengan sendirinya menunjukkan peningkatan pendapatan maupun keuntungan perusahaan. Penilaian kinerja secara menyeluruh tetap memerlukan data keuangan dan indikator operasional lainnya.
Direktur Utama PMT: Kualitas Pelayanan Harus Terus Ditingkatkan
Direktur Utama PT Prima Multi Terminal, Rudi Susanto, menilai pertumbuhan arus barang hingga September 2026 merupakan salah satu indikator bahwa kebutuhan distribusi dan layanan logistik masih memegang peran penting dalam aktivitas ekonomi Sumatera.
Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi peluang bagi perusahaan untuk terus memperbaiki mutu layanan, mengoptimalkan fasilitas, serta menyesuaikan operasional dengan kebutuhan industri dan perdagangan.
“Pertumbuhan arus barang ini menunjukkan bahwa kebutuhan distribusi masih menjadi penopang penting bagi kegiatan kepelabuhanan. Kami melihat peluang untuk terus meningkatkan kualitas layanan, sejalan dengan perkembangan aktivitas industri dan perdagangan di Sumatera,” ujar Rudi Susanto.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan volume barang perlu diimbangi dengan kesiapan pelayanan dan pengelolaan fasilitas yang memadai.
Sebab, dalam industri kepelabuhanan modern, daya saing tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya kapasitas terminal, tetapi juga oleh kecepatan pelayanan, kepastian operasional, keselamatan kerja, dan kemampuan menekan hambatan logistik.
Pelabuhan yang mampu memberikan pelayanan konsisten dapat membantu dunia usaha menyusun jadwal distribusi dan pengiriman barang dengan lebih terukur.
Efisiensi Operasional Menjadi Kunci Daya Saing Pelabuhan
Selain pertumbuhan arus barang, PMT turut memberikan perhatian terhadap indikator efektivitas kegiatan bongkar muat.
Perusahaan mencatat rasio effective time terhadap berthing time (ET/BT) di Terminal Belawan sebesar 85,18 persen.
Sementara itu, pada Terminal Kuala Tanjung, rasio ET/BT tercatat sebesar 71,47 persen untuk layanan internasional dan 66,88 persen untuk layanan domestik.
Rasio tersebut merupakan salah satu indikator yang menggambarkan proporsi waktu kerja efektif selama kapal berada di tambatan.
Pengelolaan waktu pelayanan menjadi penting karena keterlambatan dan hambatan operasional dapat memengaruhi jadwal kapal, pemanfaatan fasilitas terminal, serta perencanaan distribusi barang oleh pengguna jasa.
Dalam rangka menjaga kinerja, PMT terus melakukan optimalisasi melalui peningkatan penggunaan peralatan bongkar muat, pengaturan lapangan penumpukan, serta penguatan koordinasi antara unit operasional, pengguna jasa, dan terminal terkait.
Upaya tersebut diarahkan untuk mendukung kelancaran aktivitas kepelabuhanan sekaligus memperkuat kesiapan layanan menghadapi perubahan kebutuhan pasar.
Ke depan, peningkatan efisiensi diharapkan dapat memberikan manfaat bukan hanya bagi operator terminal, tetapi juga bagi perusahaan pelayaran, pelaku industri, dan jaringan distribusi yang memanfaatkan fasilitas pelabuhan.
Hadapi Dinamika Global, Pelabuhan Dituntut Semakin Adaptif
Industri kepelabuhanan merupakan sektor yang berkaitan erat dengan perubahan ekonomi dan perdagangan dunia.
Pergeseran jalur pelayaran, perubahan pola permintaan barang, dinamika geopolitik, hingga gangguan rantai pasok internasional dapat memengaruhi aktivitas pelabuhan.
Situasi tersebut menuntut operator terminal untuk semakin adaptif dalam menyusun strategi operasional dan pelayanan.
Bagi Belawan dan Kuala Tanjung, tantangan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan arus barang, tetapi juga bagaimana memastikan kelancaran pelayanan ketika terjadi perubahan jadwal kedatangan kapal, fluktuasi volume muatan, ataupun perubahan kebutuhan pengguna jasa.
Penguatan koordinasi antara pengelola terminal, otoritas pelabuhan, perusahaan pelayaran, serta pelaku logistik menjadi salah satu unsur yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan pelayanan.
Dengan dukungan operasional yang baik, keberadaan pelabuhan dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat konektivitas industri dan perdagangan regional.
Keselamatan Kerja Tidak Boleh Tertinggal dari Pertumbuhan
Di balik meningkatnya aktivitas bongkar muat, terdapat aspek mendasar yang tidak boleh diabaikan, yakni keselamatan dan kesehatan kerja.
Operasional terminal peti kemas melibatkan peralatan berat, kendaraan pengangkut, sistem penumpukan, serta berbagai kegiatan yang membutuhkan koordinasi dan pengawasan ketat.
Karena itu, peningkatan produktivitas harus berjalan seiring dengan penerapan standar keselamatan yang konsisten.
PMT menyatakan terus memperkuat pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melalui inspeksi berkala, standardisasi prosedur kerja, dan pengawasan aktivitas operasional.
Langkah tersebut merupakan bagian penting dalam membangun lingkungan kerja yang aman, meminimalkan potensi kecelakaan, serta mendukung keberlangsungan pelayanan pelabuhan.
Pertumbuhan usaha yang berkelanjutan tidak cukup hanya ditunjukkan melalui meningkatnya volume barang. Perlindungan terhadap tenaga kerja, keandalan peralatan, dan kepastian prosedur keselamatan juga merupakan bagian dari kualitas pengelolaan terminal.
Belawan dan Kuala Tanjung dalam Masa Depan Logistik Sumatera
Pertumbuhan arus peti kemas dan barang nonpeti kemas hingga September 2026 memberikan gambaran mengenai potensi penguatan pelayanan logistik di Sumatera Utara.
Belawan dan Kuala Tanjung memiliki peran yang saling melengkapi dalam mendukung aktivitas distribusi, perdagangan, dan kebutuhan industri.
Ke depan, perkembangan kedua kawasan pelabuhan tersebut juga akan berkaitan erat dengan kesiapan infrastruktur pendukung, akses transportasi, jaringan pelayaran, serta kemampuan industri di wilayah penyangga dalam memanfaatkan layanan yang tersedia.
Peningkatan volume menjadi modal penting bagi pengembangan pelayanan. Namun, keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada konsistensi kualitas, efisiensi biaya, keselamatan, dan kemampuan membangun konektivitas yang semakin luas.
Melalui berbagai upaya peningkatan operasional yang dilaksanakan, PT Prima Multi Terminal menegaskan komitmennya untuk terus menjaga mutu pelayanan dan mendukung kelancaran arus logistik.
Di tengah tantangan perdagangan dunia, capaian PMT memperlihatkan bahwa aktivitas kepelabuhanan di Sumatera masih memiliki ruang untuk tumbuh. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar diikuti peningkatan efisiensi, keandalan pelayanan, dan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
Sebab, pelabuhan bukan sekadar tempat kapal bersandar dan peti kemas berpindah. Pelabuhan merupakan bagian dari jaringan yang menghubungkan kegiatan produksi, perdagangan, dan kebutuhan masyarakat.
Ketika arus logistik berjalan lancar, peluang pertumbuhan dunia usaha dan penguatan konektivitas ekonomi pun semakin terbuka.














