Scroll Untuk Membaca Artikel
banner 468x60
banner 468x60
Regional

Ilmu yang Membebaskan: Membaca Ulang NDP dan Kesadaran Akademik yang Tak Berhenti pada Hafalan

Avatar photo
79
×

Ilmu yang Membebaskan: Membaca Ulang NDP dan Kesadaran Akademik yang Tak Berhenti pada Hafalan

Sebarkan artikel ini

PALUTA, [Gaperta.id] — Ada satu kegelisahan lama dalam dunia pendidikan yang hingga hari ini masih layak diperdebatkan: apakah pendidikan benar-benar sedang membentuk manusia yang mampu berpikir, atau sekadar menghasilkan orang-orang yang terampil menghafal jawaban?

Pertanyaan itu menjadi penting ketika keberhasilan akademik lebih sering diukur dari kemampuan menjawab soal, mengulang teori dan menyebutkan definisi sebagaimana tertulis dalam buku. Mahasiswa kemudian terbiasa mengejar jawaban yang dianggap benar, tetapi belum tentu memperoleh ruang yang cukup untuk bertanya: mengapa jawaban itu dianggap benar, bagaimana sebuah pengetahuan dibentuk, dan untuk kepentingan siapa pengetahuan tersebut digunakan?

Di titik inilah pendidikan menghadapi tantangan yang lebih mendasar.

Sebab pendidikan semestinya tidak berhenti pada proses memindahkan pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa. Pendidikan seharusnya membangunkan kesadaran, mengasah keberanian berpikir serta melatih manusia membaca realitas dengan pikirannya sendiri.

Persoalan tersebut menarik apabila ditempatkan dalam perspektif Nilai Dasar Pergerakan (NDP) dalam tradisi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Bagi kader pergerakan, NDP seharusnya tidak hanya berhenti sebagai materi kaderisasi yang dihafalkan, tetapi menjadi landasan untuk membaca manusia, ilmu pengetahuan dan realitas sosial secara lebih kritis.

Ketika Pendidikan Hanya Melatih Ingatan

Sistem pendidikan yang terlalu bertumpu pada hafalan memiliki risiko melahirkan kultur akademik yang miskin dialektika.

Mahasiswa dapat menjadi sangat terampil menjelaskan teori, tetapi belum tentu terbiasa menguji teori tersebut ketika berhadapan dengan persoalan nyata.

Ia mungkin mampu memperoleh nilai tinggi dalam ujian, namun kesulitan ketika harus mempertanyakan sebuah kebijakan, membaca ketimpangan sosial atau menyusun argumentasi yang berbeda dari pandangan mayoritas.

Jangan Lewatkan :  Dinkes Dumai Screening VCT, IMS dan TB Paru Terhadap Warga Binaan Rutan

Padahal, kehidupan akademik justru semestinya menjadi tempat di mana pertanyaan memperoleh ruang seluas-luasnya.

Sebab ilmu pengetahuan berkembang bukan hanya melalui jawaban, melainkan melalui keberanian manusia mengajukan pertanyaan baru.

Dalam konteks inilah gagasan mengenai epistemologi liberatif atau pengetahuan yang membebaskan menjadi relevan.

Ilmu tidak semestinya menjadikan manusia tunduk pada satu pola pemikiran tanpa ruang pengujian. Sebaliknya, pengetahuan idealnya membantu manusia keluar dari ketidaktahuan, keterbelakangan cara berpikir maupun struktur sosial yang membatasi kemanusiaannya.

NDP sebagai Ruang Refleksi, Bukan Sekadar Hafalan

Dalam kehidupan kaderisasi PMII, NDP memiliki posisi penting sebagai pijakan nilai sekaligus ruang refleksi.

Artinya, NDP tidak selayaknya diperlakukan seperti kumpulan kalimat yang cukup dihafalkan untuk kemudian selesai ketika proses kaderisasi berakhir.

Nilai-nilai tersebut justru harus terus diuji dalam kehidupan nyata.

Di sinilah mahasiswa dituntut untuk mempertemukan gagasan dengan realitas.

Sebuah pemikiran tidak otomatis harus diterima hanya karena disampaikan oleh seseorang yang memiliki otoritas. Sebaliknya, perbedaan pendapat juga tidak semestinya dianggap sebagai ancaman.

Tradisi akademik tumbuh ketika gagasan bertemu gagasan, argumentasi berhadapan dengan argumentasi, dan kesimpulan lahir setelah melalui proses berpikir yang jernih.

Karena itu, kesadaran akademik sesungguhnya tidak dapat hanya diukur dari seberapa banyak buku yang dibaca atau teori yang mampu disebutkan.

Ia juga terlihat dari keberanian bertanya, kemampuan menguji argumentasi dan kesediaan menerima bahwa pengetahuan manusia selalu terbuka untuk dikritik dan dikembangkan.

Kampus Jangan Menjadi Ruang Satu Arah

Persoalannya, praktik pendidikan kadang masih berjalan dalam pola komunikasi satu arah.

Jangan Lewatkan :  Bersama Pertamina EP Rantau Field, Ratusan Anak Berkebutuhan Khusus Unjuk Bakat pada Hari Anak Nasional

Dosen berbicara, mahasiswa mendengar. Buku menjelaskan, mahasiswa mencatat. Materi diberikan, lalu mahasiswa menghafalnya untuk menghadapi ujian.

Apabila pola semacam itu menjadi satu-satunya model pembelajaran, kampus berisiko kehilangan salah satu fungsi terpentingnya: membangun manusia yang merdeka dalam berpikir.

Dosen tentu memiliki otoritas keilmuan. Namun otoritas akademik tidak berarti menutup ruang pertanyaan.

Demikian pula buku merupakan sumber ilmu, tetapi buku bukanlah kebenaran yang kebal dari pembacaan kritis.

Justru mahasiswa perlu dibiasakan mempertanyakan argumentasi, membandingkan berbagai perspektif, mencari sumber lain serta mempertanggungjawabkan pendapatnya secara ilmiah.

Kritis bukan berarti gemar membantah.

Kritis berarti tidak menerima maupun menolak sesuatu sebelum melalui proses berpikir dan pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Menghidupkan Semangat ‘Iqra’

NDP memberikan ruang penting terhadap semangat iqra—membaca.

Namun membaca di sini tidak selayaknya dimaknai sebatas membaca teks.

Yang jauh lebih penting adalah kemampuan membaca realitas.

Mahasiswa harus mampu melihat hubungan antara teori yang dipelajarinya dengan kehidupan masyarakat di luar kampus.

Ilmu ekonomi, misalnya, tidak cukup berhenti pada grafik dan rumus apabila mahasiswa tidak mampu membaca persoalan kemiskinan dan ketimpangan.

Ilmu hukum tidak cukup hanya menguasai pasal ketika keadilan dalam kehidupan masyarakat tidak pernah menjadi bahan refleksi.

Demikian pula ilmu sosial, politik, pendidikan maupun disiplin lainnya seharusnya memiliki hubungan dengan persoalan nyata yang dihadapi manusia.

Dengan demikian, belajar bukan sekadar mencari gelar atau memenuhi kewajiban akademik.

Belajar adalah proses panjang dalam membentuk cara seseorang memahami dunia.

Jangan Lewatkan :  Komisi VI DPR RI Tinjau Inovasi CEOR Minas, Dukung Langkah Pertamina Jaga Ketahanan Energi Nasional

Kritis, tetapi Tetap Berpijak pada Nilai

Kesadaran akademik yang lahir dari proses tersebut pada akhirnya diharapkan membentuk manusia yang progresif sekaligus transformatif.

Progresif berarti tidak berhenti pada keadaan yang ada.

Transformatif berarti ilmu yang dimiliki mampu memberi arti terhadap perubahan kehidupan masyarakat.

Namun sikap kritis tidak boleh berubah menjadi kebiasaan menolak segala sesuatu hanya karena ingin terlihat berbeda.

Begitu pula keterbukaan terhadap perubahan tidak berarti kehilangan pijakan nilai.

Di sinilah NDP dapat memainkan perannya: memberikan fondasi agar kebebasan berpikir tetap berjalan bersama tanggung jawab moral, kemanusiaan dan keberpihakan terhadap nilai-nilai kehidupan.

Belajar Bukan Menghafal Kebenaran Orang Lain

Pada akhirnya, kampus semestinya tidak sekadar menjadi pabrik ijazah atau tempat manusia berlomba memperoleh nilai tertinggi.

Kampus harus tetap menjadi rumah bagi pemikiran, perdebatan, pencarian dan kegelisahan intelektual.

Mahasiswa perlu diberikan keberanian untuk mempertanyakan.

Dosen perlu membuka ruang untuk dipertanyakan.

Dan ilmu pengetahuan harus terus dipertemukan dengan kenyataan kehidupan.

Sebab seseorang yang hanya menghafal sebuah pemikiran mungkin mampu mengulang apa yang dikatakan orang lain. Tetapi orang yang benar-benar belajar akan mampu memahami, menguji dan bahkan melahirkan pemikiran baru.

Barangkali di situlah semangat terdalam pendidikan dan NDP bertemu:

bahwa belajar bukanlah proses menghafal kebenaran milik orang lain, melainkan perjalanan membangun kesadaran agar manusia berani mencari, memahami dan memperjuangkan kebenaran dengan akal, ilmu serta tanggung jawabnya sendiri.

Disusun oleh: Hotib Sempurna Siregar
Peserta PKL PC PMII Kota Padang 2026