Scroll Untuk Membaca Artikel
banner 468x60
banner 468x60
Peristiwa

Persoalan Penggunaan Karya Jurnalistik Berujung Pesan Bernada Intimidatif, Pimpinan Gaperta.id: Jangan Bawa Persoalan Pers ke Ranah Pribadi

Avatar photo
36
×

Persoalan Penggunaan Karya Jurnalistik Berujung Pesan Bernada Intimidatif, Pimpinan Gaperta.id: Jangan Bawa Persoalan Pers ke Ranah Pribadi

Sebarkan artikel ini

LABUHANBATU, [Gaperta.id] — Persoalan penggunaan materi visual pemberitaan milik Gaperta.id oleh pihak lain berbuntut panjang. Setelah persoalan tersebut disampaikan dalam konteks profesional antarsesama insan pers, Pimpinan Gaperta.id, Albert Hutagaol, mengaku menerima pesan WhatsApp yang dinilainya bernada intimidatif, Rabu (26/8/2026).

Persoalan bermula dari ditemukannya materi visual/grafis yang sebelumnya digunakan Gaperta.id dalam pemberitaan berjudul “Gerak Cepat Tindak Lanjuti Laporan Warga, Polsek NA IX-X Gerebek Lokasi Diduga Sarang Narkoba di Suka Dame”, yang diterbitkan pada 15 Agustus 2026.

Berdasarkan dokumentasi tangkapan layar yang disimpan redaksi, materi visual tersebut kemudian terlihat digunakan dalam pemberitaan media lain.

Gaperta.id pada prinsipnya tidak mempersoalkan media lain memberitakan ataupun mengembangkan informasi mengenai peristiwa yang sama. Namun, redaksi menilai hasil foto, desain maupun grafis jurnalistik yang dibuat suatu media selayaknya dihargai dengan pencantuman sumber atau kredit yang jelas.

Jangan Lewatkan :  Kecelakaan Lalu-lintas di Areal Persawahan Rata Bena

Persoalan tersebut kemudian disampaikan dalam konteks profesional di lingkungan insan pers.

Namun setelah itu, Albert mengaku menerima pesan WhatsApp dari seseorang yang mengaitkan persoalan tersebut dengan pernyataannya di sebuah grup WhatsApp.

Dalam pesan yang telah didokumentasikan, pengirim antara lain menuliskan kalimat “pasti jumpa kita”, “lihat jalan mu, mulai tersandung”, dan “si Albert berurusan sama saya.”

Pesan tersebut juga menyinggung suatu lokasi yang dikaitkan dengan Albert.

Albert mengatakan dirinya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan apakah rangkaian pesan tersebut memenuhi unsur ancaman secara hukum. Penilaian mengenai hal tersebut, menurutnya, merupakan kewenangan aparat penegak hukum apabila persoalan nantinya dibawa ke ranah hukum.

Namun, ia mengaku merasa tidak nyaman dan menilai pilihan kata yang digunakan dalam pesan tersebut bernada intimidatif.

Jangan Lewatkan :  Kabar Duka dari Dunia Pers Kalbar, Udin Subari Senior PWI Kalbar Meninggal Dunia

“Sejak awal yang saya persoalkan adalah penggunaan karya jurnalistik. Tidak ada persoalan pribadi. Kalau ada yang keberatan dengan apa yang saya sampaikan, mari dibicarakan secara profesional. Jangan persoalan pekerjaan pers kemudian dibawa menjadi persoalan pribadi,” ujar Albert.

Seluruh Bukti Disimpan

Albert mengatakan seluruh dokumentasi berkaitan dengan kejadian tersebut telah disimpan, mulai dari publikasi asli Gaperta.id, materi visual, tangkapan layar penggunaan materi oleh pihak lain hingga percakapan WhatsApp yang diterimanya.

Langkah tersebut dilakukan sebagai dokumentasi redaksi sekaligus antisipasi apabila di kemudian hari diperlukan untuk meminta pendampingan maupun menempuh mekanisme yang tersedia.

“Saya tidak berniat membalas ancaman dengan ancaman. Semua komunikasi saya dokumentasikan. Kita sama-sama insan pers, seharusnya persoalan seperti ini dapat diselesaikan dengan komunikasi, etika dan cara-cara profesional,” katanya.

Jangan Lewatkan :  "Pemuda Pancasila Buka Mediasi, Belawan Menuju Kota Berkawan"

Albert juga mengingatkan bahwa perbedaan pendapat maupun sengketa berkaitan dengan karya jurnalistik semestinya diselesaikan melalui mekanisme yang berlaku, bukan melalui intimidasi atau konflik personal.

Redaksi Buka Ruang Klarifikasi

Gaperta.id menegaskan tetap mengedepankan prinsip keberimbangan dan asas praduga tak bersalah.

Karena itu, redaksi membuka ruang klarifikasi dan hak jawab kepada pihak yang mengirim pesan WhatsApp maupun pihak media yang disebut menggunakan materi visual Gaperta.id, termasuk apabila terdapat versi berbeda mengenai rangkaian kejadian tersebut.

Identitas pengirim pesan tidak dicantumkan dalam pemberitaan ini karena redaksi memilih mengedepankan substansi persoalan dan memberikan kesempatan kepada pihak terkait untuk memberikan penjelasan.

Gaperta.id berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secara profesional dan tidak berkembang menjadi konflik pribadi ataupun tindakan yang dapat mengganggu kerja-kerja jurnalistik.