DUMAI, [Gaperta.id] – “Masalah pertanian regeneratif bukan semata kekurangan pembiayaan. Masalahnya adalah pasar belum dirancang untuk memberi penghargaan kepada petani yang melakukan regenerasi.”
Pertanian regeneratif menjanjikan tanah yang lebih sehat, produksi lebih tangguh dan pendapatan petani yang lebih baik. Tetapi perubahan itu tidak akan berlangsung luas jika seluruh biaya dan risikonya tetap dibebankan kepada petani. Yang harus berubah bukan hanya cara bertani, melainkan cara pasar membayar, bank membiayai, perusahaan membeli, dan pemerintah mengelola risiko.
Di banyak lahan pertanian, persoalannya sebenarnya sederhana untuk dilihat, tetapi sulit diselesaikan. Tanah membutuhkan semakin banyak input untuk menghasilkan produksi yang sama. Cuaca semakin sulit diprediksi. Harga pupuk dan pestisida naik-turun. Petani berada di tengah semua risiko itu, sementara ruang untuk melakukan kesalahan semakin sempit.
Selama bertahun-tahun, jawabannya lebih sering diarahkan kepada petani.
Gunakan pupuk lebih baik. Perbaiki tanah. Kurangi pestisida. Diversifikasikan tanaman. Lindungi air. Gunakan sistem produksi yang lebih berkelanjutan.
Tetapi ada satu pertanyaan ekonomi yang sering terlupakan:
SIAPA yang membayar perubahan itu?
Inilah persoalan yang diangkat Santiago Gowland, CEO Rainforest Alliance, dalam tulisan yang diterbitkan World Economic Forum pada 23 September 2026.
Menurutnya, hambatan pertanian regeneratif bukan sekadar kekurangan pembiayaan. Persoalan yang lebih mendasar adalah pasar pertanian belum dirancang untuk memberi penghargaan kepada petani yang memperbaiki tanah dan ekosistemnya.
Gagasan tersebut menggeser diskusi pertanian regeneratif dari urusan teknik budidaya menjadi persoalan ekonomi.
PETANI Menanggung Risiko, Banyak Pihak Menikmati Manfaat
Pertanian regeneratif pada dasarnya berupaya membangun kembali fungsi ekosistem pertanian yang mengalami degradasi.
Caranya dapat berbeda sesuai lokasi. Rotasi tanaman, tanaman penutup tanah, pemanfaatan bahan organik, pengurangan ketergantungan terhadap input eksternal, konservasi air, diversifikasi tanaman, sampai pengelolaan biologis hama dapat menjadi bagiannya.
Tetapi manfaat yang muncul tidak berhenti di batas kebun.
Tanah yang lebih sehat dapat menahan air lebih baik. Ketergantungan terhadap input eksternal dapat berkurang. Produksi berpotensi menjadi lebih tahan terhadap guncangan iklim.
Perusahaan memperoleh pasokan yang lebih stabil
Bank memperoleh nasabah pertanian dengan risiko yang lebih terukur.
Pemerintah memperoleh manfaat melalui ketahanan pangan, pendapatan ekspor, pekerjaan perdesaan, perlindungan daerah aliran sungai dan berkurangnya tekanan terhadap lingkungan.
Konsumen memperoleh sistem pangan yang lebih tahan terhadap gangguan.
Masalahnya, biaya peralihan sering muncul jauh sebelum manfaat tersebut dapat dinikmati.
Petani harus mengubah praktik produksi, membeli atau membuat input baru, mengikuti pelatihan, menanggung ketidakpastian produksi dan menunggu tanah merespons perubahan.
Karena itu, meminta petani menanggung transisi tersebut sendirian bukanlah desain ekonomi yang masuk akal.
ANGKA 14 Persen dan 45 Persen
Ada data yang membuat gagasan tersebut semakin menarik.
Sebuah meta-analisis Joint Research Centre Komisi Eropa yang diterbitkan pada 2026 menelaah transisi agroekologi di negara-negara Global South.
Hasilnya menunjukkan bahwa sistem pertanian yang mengadopsi setidaknya dua praktik agroekologi menghasilkan, secara rata-rata:
• kenaikan hasil panen 14,3 persen
• peningkatan pendapatan kotor 44,5 persen
• penurunan biaya produksi 36,5 persen
dibandingkan sistem pembanding yang lebih sederhana.
Angka tersebut menjanjikan.
Tetapi ia tidak boleh dibaca sebagai rumus universal.
Meta-analisis itu menggunakan sekitar 350 studi primer, tetapi analisis akhirnya hanya mencakup 76 observasi untuk hasil produksi, 42 untuk pendapatan dan 19 untuk biaya produksi.
Penelitinya sendiri memperingatkan bahwa hasil sangat tergantung pada kondisi tanah, temperatur, air, skala penelitian dan karakter lokal.
Bahkan temuan penurunan biaya produksi sebesar 36,5 persen harus dibaca dengan hati-hati karena didasarkan pada jumlah observasi yang relatif sedikit.
Dengan kata lain:
Pertanian regeneratif memiliki bukti ekonomi yang menjanjikan, tetapi bukan jaminan bahwa setiap petani di setiap tempat otomatis memperoleh kenaikan produksi dan pendapatan yang sama.
Justru di sinilah data lokal menjadi penting.
MASALAHNYA Bukan Hanya Pembiayaan
Selama ini diskusi mengenai transformasi pertanian sering berhenti pada satu kesimpulan: petani membutuhkan kredit lebih murah.
Itu benar, tetapi belum cukup.
Bank tidak akan mudah memberikan pembiayaan jangka panjang jika pendapatan petani tidak dapat diprediksi.
Petani juga tidak akan berani melakukan investasi besar jika tidak tahu apakah hasil produksinya akan dibeli tiga atau lima tahun kemudian.
Karena itu, kuncinya justru dapat dimulai dari offtaker atau pembeli.
Perusahaan yang membutuhkan pasokan pertanian yang stabil dapat memberikan kontrak pembelian beberapa tahun.
Kontrak tersebut mengubah posisi petani.
Petani memperoleh kepastian pasar.
Bank memperoleh gambaran arus pendapatan.
Perusahaan memperoleh keamanan pasokan.
Jika sebagian biaya transisi ikut ditanggung pembeli, pemerintah atau lembaga pembiayaan, risiko mulai terbagi.
Kontrak pembelian akhirnya bukan sekadar transaksi perdagangan.
Ia dapat berubah menjadi instrumen pembiayaan pertanian.
Komitmen pembelian jangka panjang, dukungan terhadap biaya transisi dan penghargaan atas hasil yang dapat diverifikasi memberi lembaga pembiayaan informasi yang lebih konkret mengenai pendapatan dan distribusi risiko.
PERAN Pemerintah juga Berubah
Dalam model lama, pemerintah sering menjadi penyedia bantuan.
Bibit.
Pupuk.
Pelatihan.
Peralatan.
Dalam ekonomi regeneratif, perannya lebih strategis.
Pemerintah dapat menanggung bagian risiko yang memang menghasilkan manfaat publik.
Misalnya perlindungan daerah aliran sungai, konservasi tanah, biodiversitas, ketahanan pangan dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Nilai tersebut tidak selalu dapat dibayar melalui harga satu kilogram kopi, kakao, padi atau komoditas lainnya.
Karena itu, pembiayaan publik dapat digunakan untuk membayar manfaat yang bersifat publik, sementara perusahaan membayar manfaat komersial dan investor membiayai aktivitas yang memiliki arus kas.
Struktur itu jauh lebih masuk akal dibandingkan meminta petani melakukan seluruh perubahan dengan modalnya sendiri.
DATA Menjadi Infrastruktur Baru Pertanian
Tetapi ada satu syarat yang tidak dapat dihindari:
Semuanya harus dapat diukur.
Investor tidak dapat membiayai slogan.
Pemerintah tidak seharusnya membayar klaim yang tidak dapat diverifikasi.
Perusahaan juga tidak dapat terus-menerus menggunakan label “regeneratif” tanpa menunjukkan hasil.
Karena itu, sistem pertanian regeneratif membutuhkan baseline.
Bagaimana kondisi tanah sebelum intervensi?
Berapa biaya pupuk dan pestisida?
Berapa hasil produksi per hektare?
Berapa pendapatan bersih petani?
Bagaimana penggunaan air?
Bagaimana biodiversitasnya?
Kemudian indikator yang sama diukur lagi setelah satu, dua atau tiga tahun.
Data itulah yang membedakan regenerasi nyata dengan sekadar pemasaran hijau.
Ini menjadi semakin penting karena dunia akademik sendiri belum mempunyai satu definisi universal mengenai regenerative agriculture.
Istilah tersebut masih digunakan dengan beragam pengertian dan berisiko kehilangan makna apabila hanya menjadi daftar praktik atau label pemasaran.
INDONESIA Memiliki Peluang Besar
Di Indonesia, gagasan ini relevan untuk berbagai komoditas:
Sawit rakyat.
Kopi.
Kakao.
Karet.
Padi.
Hortikultura.
Tetapi pemerintah tidak perlu memulai dengan program raksasa.
Pilihan yang lebih rasional adalah membangun beberapa kawasan percontohan berdasarkan komoditas dan bentang alam.
Petani atau koperasi menjadi basis produksi.
Perusahaan menjadi offtaker.
Bank dan investor menyediakan modal.
Pemerintah menanggung bagian risiko publik dan pembangunan infrastruktur.
Perguruan tinggi atau lembaga independen melakukan pengukuran.
Teknologi digital mencatat perkembangan tanah, produksi, input, pendapatan dan kondisi lingkungan.
Alurnya dapat disederhanakan menjadi:
TANAH → PETANI → DATA → PEMBIAYAAN → PASAR
Jika sistem itu berjalan, pertanian regeneratif tidak lagi menjadi proyek lingkungan.
Ia menjadi model bisnis pertanian.
DARI Pertanian Hijau Menuju Ekonomi Regeneratif
Inilah perubahan paling penting dalam gagasan tersebut.
Selama beberapa dekade, keberlanjutan sering dibicarakan sebagai kewajiban moral.
Petani diminta menjaga lingkungan.
Perusahaan diminta membeli produk berkelanjutan.
Konsumen diminta membayar lebih mahal.
Tetapi sistem semacam itu mempunyai keterbatasan.
Pertanian regeneratif hanya akan berkembang dalam skala besar jika menjaga tanah juga masuk akal secara ekonomi.
Petani harus memperoleh keuntungan dari regenerasi.
Perusahaan harus memperoleh pasokan yang lebih aman.
Bank harus melihat risiko yang lebih rendah.
Pemerintah harus memperoleh manfaat publik yang dapat diukur.
Konsumen memperoleh pangan dari sistem produksi yang lebih tangguh.
Bila semua pihak memperoleh manfaat, semua pihak juga seharusnya ikut membayar biaya transformasinya.
Itulah titik ketika gagasan regenerative agriculture mulai berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar:
REGENERATIVE Economy
Ekonomi yang tidak hanya menghitung berapa banyak yang dapat diambil dari tanah, tetapi juga berapa banyak kemampuan tanah untuk menghasilkan kembali yang berhasil dipulihkan.
Dan mungkin di situlah pertanian masa depan akan ditentukan.
Bukan hanya oleh seberapa besar panen yang dapat dihasilkan tahun ini, tetapi oleh apakah lahan yang sama masih mampu memberi kehidupan dua puluh atau lima puluh tahun dari sekarang.














