Scroll Untuk Membaca Artikel
banner 468x60
banner 468x60
Regional

Dari Teori ke Implementasi, BNCT Tanamkan Budaya Lean untuk Perkuat Kinerja Terminal Petikemas

Avatar photo
62
×

Dari Teori ke Implementasi, BNCT Tanamkan Budaya Lean untuk Perkuat Kinerja Terminal Petikemas

Sebarkan artikel ini

BELAWAN, [Gaperta.id] — Di tengah tuntutan industri logistik yang bergerak semakin cepat, efisiensi tidak lagi cukup dipandang sekadar sebagai target angka. Ia harus tumbuh menjadi budaya kerja—dimulai dari kemampuan setiap pekerja melihat persoalan, menemukan pemborosan, hingga menghadirkan solusi yang lebih sederhana dan efektif.

Semangat itulah yang dibangun PT Belawan New Container Terminal (BNCT) melalui BNCT Lean Training 2026: Driving Continuous Improvement and Operational Excellence, yang diselenggarakan pada 14, 15 dan 17 September 2026 di lingkungan operasional BNCT, Belawan, Kota Medan.

Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat kapasitas sumber daya manusia sekaligus membangun pola kerja yang lebih efektif, terukur dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.

Tidak hanya berbicara mengenai bagaimana pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat, peserta juga diajak memahami bagaimana setiap tahapan dalam proses operasional dapat dievaluasi sehingga aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah dapat diminimalkan.

Program tersebut diikuti para lead serta perwakilan pegawai dari berbagai departemen. Keterlibatan lintas fungsi menjadi bagian penting agar semangat perbaikan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi pola pikir bersama di seluruh lini organisasi.

Jangan Lewatkan :  KDM Blusukan ke Pasar Tumpah Cikarang, Cari Solusi Penataan PKL Biar Tertib Rezeki Lancar

Dalam pelatihan, para peserta mendapatkan pemahaman mengenai prinsip-prinsip Lean, mulai dari identifikasi pemborosan atau waste dalam proses kerja, teknik pemecahan masalah secara sistematis, penelusuran akar persoalan hingga pentingnya standardisasi proses.

Melalui pendekatan interaktif dan kolaboratif, peserta juga didorong untuk melihat langsung persoalan yang muncul dalam aktivitas kerja sehari-hari.

Dari sana, persoalan tidak hanya dicatat sebagai hambatan, tetapi dianalisis untuk menemukan penyebab utama dan kemudian dirumuskan menjadi solusi yang dapat memberikan nilai tambah bagi efektivitas maupun produktivitas terminal petikemas.

Pendekatan semacam ini dinilai penting karena operasional terminal merupakan rangkaian proses yang saling berkaitan. Ketidakefisienan pada satu tahapan dapat memengaruhi tahapan lainnya, sehingga perbaikan harus dibangun melalui koordinasi dan kesamaan pemahaman antarbagian.

Corporate Secretary BNCT, Rizki Affandi Nasution, mengatakan penerapan Lean tidak semata-mata merupakan metode untuk memangkas proses kerja, melainkan bagian dari pola pikir strategis dalam menjaga daya saing perusahaan.

Menurutnya, perubahan yang berkelanjutan hanya dapat tercipta ketika seluruh bagian organisasi memiliki pemahaman serta komitmen yang sama.

> “Lean bukan sekadar metode untuk meningkatkan efisiensi, melainkan sebuah pola pikir yang mendorong kita untuk terus melakukan perbaikan. Melalui keikutsertaan perwakilan dari seluruh departemen dalam Lean Training 2026 ini, BNCT ingin membangun persepsi dan komitmen yang sama dalam mengoptimalkan kinerja operasional,” ujar Rizki Affandi Nasution.

Jangan Lewatkan :  PEP Rantau Bekali Siswa Berkebutuhan Khusus dengan Kemampuan Tanggap Bencana

Ia menegaskan, perusahaan tidak ingin gagasan perbaikan berhenti hanya dalam materi pelatihan maupun diskusi di dalam ruangan.

> “Kami ingin memastikan bahwa setiap gagasan perbaikan tidak berhenti pada tataran teori, tetapi diimplementasikan secara nyata dalam aktivitas pekerjaan sehari-hari demi menghadirkan layanan terminal petikemas yang makin efektif, efisien, dan berdaya saing tinggi,” lanjutnya.

Dengan demikian, Lean Training tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan individual peserta. Lebih jauh, pelatihan diharapkan menjadi jembatan untuk membangun kebiasaan baru di lingkungan kerja—mulai dari kemampuan mengidentifikasi masalah, keberanian mengusulkan perbaikan hingga konsistensi menjaga standar yang telah disepakati.

Bagi sebuah terminal petikemas, budaya perbaikan semacam itu memiliki arti strategis. Setiap proses yang lebih ringkas, setiap waktu tunggu yang dapat ditekan, serta setiap mekanisme kerja yang semakin terstandardisasi pada akhirnya berkontribusi terhadap kualitas pelayanan secara keseluruhan.

Pelatihan juga menjadi ruang bagi pekerja lintas departemen untuk bertukar pandangan dan pengalaman. Sebab dalam konsep perbaikan berkelanjutan, sebuah persoalan yang muncul pada satu bagian tidak selalu dapat diselesaikan hanya oleh bagian tersebut.

Jangan Lewatkan :  Tambah 4 MW Mesin Genset, PLN Selat Panjang Bergerak Cepat Normalkan Listrik di Kepulauan Meranti

Kolaborasi menjadi salah satu kunci agar solusi yang dihasilkan tidak bersifat parsial, tetapi dapat diterapkan secara lebih menyeluruh dalam mendukung operasional perusahaan.

Melalui BNCT Lean Training 2026, perusahaan berupaya meletakkan fondasi yang semakin kuat bagi terciptanya lingkungan kerja yang produktif, disiplin terhadap standar, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki orientasi terhadap keunggulan operasional jangka panjang.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pelatihan bukan hanya berapa banyak materi yang disampaikan atau berapa peserta yang hadir.

Ukuran sesungguhnya terlihat ketika pengetahuan tersebut mulai hidup dalam pekerjaan sehari-hari—ketika pekerja mampu melihat suatu persoalan dengan lebih jernih, mencari akar penyebabnya, lalu bersama-sama menghadirkan cara kerja yang lebih baik.

Dari titik itulah budaya continuous improvement dibangun: bukan melalui perubahan besar yang hanya dilakukan sekali, melainkan melalui rangkaian perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten hingga menghasilkan dampak besar bagi kinerja perusahaan.