BALI, [Gaperta.id] – Ada perjalanan yang dilakukan seseorang untuk menikmati keindahan alam. Ada pula perjalanan yang ditempuh bukan sekadar untuk melihat tempat baru, melainkan mencari ketenangan, memahami kehidupan, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Bagi Biyung AR bersama sejumlah sahabatnya dari Surabaya, perjalanan menuju Pulau Dewata kali ini memiliki makna tersendiri.
Mereka datang bukan semata-mata untuk menikmati keindahan Bali yang telah dikenal hingga mancanegara. Tujuan perjalanan tersebut adalah mengunjungi Pura Campuhan Windu Segara di kawasan Pantai Padang Galak, Sanur, Bali, untuk mengenal dan mengikuti tradisi penyucian diri atau melukat.
Di tempat inilah, air sungai dan air laut bertemu. Dua unsur alam yang berbeda, tetapi dalam pemaknaan spiritual masyarakat Hindu Bali dapat menjadi simbol penyatuan, keseimbangan, dan kesucian.
Bagi mereka yang datang dengan keyakinan serta niat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, pertemuan dua aliran air tersebut tidak hanya dipandang sebagai fenomena alam.
Ada filosofi kehidupan yang terkandung di dalamnya.
Bahwa kehidupan manusia senantiasa mempertemukan berbagai keadaan. Ada kegembiraan dan kesedihan, kekuatan dan kelemahan, serta pengalaman yang membentuk perjalanan batin setiap insan.
Melalui tradisi melukat, manusia diajak melakukan perenungan, membersihkan pikiran dari hal-hal negatif, dan menata kembali hubungan harmonis dengan diri sendiri, sesama, alam, serta Tuhan.
Pura Campuhan Windu Segara dan Perjalanan Sejarahnya
Berdasarkan informasi yang dihimpun Biyung AR, keberadaan Pura Campuhan Windu Segara tergolong relatif baru dibandingkan sejumlah pura bersejarah lainnya di Bali.
Pura tersebut disebut didirikan pada 7 Juli 2005 oleh Jro Mangku Gede Alit Adnyana, yang kini dikenal dengan gelar Maha Guru Altreya Narayana.
Dalam penuturan yang diperoleh penulis, pembangunan pura mengacu pada konsep Tri Mandala, yakni pembagian ruang dalam tata bangunan suci Hindu Bali yang mencerminkan tingkatan kesakralan kawasan.
Konsep tersebut menempatkan ruang bukan sekadar sebagai bagian dari bangunan fisik, tetapi juga memiliki fungsi dan makna spiritual dalam kehidupan keagamaan.
Menurut keterangan yang dihimpun penulis, pura ini juga memperoleh pengakuan dari unsur Pemerintah Provinsi Bali dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali pada 9 September 2016.
Pura Campuhan Windu Segara dikenal melalui kegiatan persembahyangan dan tradisi melukat yang berlangsung di kawasan pertemuan air sungai dengan air laut.
Dalam pandangan spiritual yang berkembang di lingkungan pura, keberadaan air campuhan mempunyai kedudukan tersendiri sebagai sarana penyucian.
Ketika Air Sungai dan Laut Bertemu, Ada Filosofi Kehidupan yang Diajarkan
Istilah campuhan merujuk pada pertemuan atau perpaduan aliran air.
Dalam konteks Pura Campuhan Windu Segara, pertemuan air sungai dan air laut menjadi bagian penting dalam pemaknaan ritual keagamaan.
Air sungai yang tawar bertemu dengan air laut yang asin. Keduanya memiliki sifat berbeda, tetapi menyatu dalam suatu pertemuan alam.
Secara filosofis, peristiwa tersebut dimaknai sebagai gambaran keseimbangan kehidupan.
Ada pula pemahaman mengenai hubungan antara sekala dan niskala, dua konsep yang memiliki kedudukan penting dalam tradisi spiritual Hindu Bali.
Sekala berkaitan dengan sesuatu yang tampak atau dapat dirasakan melalui pancaindra, sedangkan niskala berhubungan dengan dimensi yang tidak kasatmata dalam pemahaman spiritual.
Keseimbangan keduanya mengajarkan bahwa kehidupan tidak cukup hanya dijalani melalui pemenuhan kebutuhan lahiriah. Manusia juga diajak memperhatikan ketenangan batin, perilaku, dan hubungan spiritualnya.
Karena itulah, tradisi melukat tidak semata-mata dipahami sebagai aktivitas membasuh tubuh menggunakan air.
Lebih jauh, ritual tersebut menjadi ruang perenungan untuk memperbaiki diri dan memohon tuntunan kepada Tuhan.
Mengenal Tahapan Melukat, Sebuah Perjalanan Perenungan Diri
Salah satu pengalaman yang menarik perhatian Biyung AR selama berada di Pura Campuhan Windu Segara adalah proses melukat yang dilaksanakan secara bertahap.
Menurut pengalaman yang disampaikan penulis, para pamedek atau orang yang datang untuk bersembahyang dan mengikuti penyucian memperoleh pendampingan dari pemandu maupun pemangku.
Sebelum pelaksanaan ritual, terdapat sejumlah sarana persembahyangan yang perlu dipersiapkan.
Di antaranya pejati, canang sari, sesari, dan kelapa gading. Penggunaan sarana tersebut mengikuti petunjuk pemangku serta ketentuan yang berlaku di lingkungan pura.
Prosesi diawali dengan piuning atau permohonan izin secara spiritual di pelinggih Sang Hyang Baruna.
Tahapan ini menjadi bagian dari penghormatan kepada Tuhan sebelum pamedek menjalani rangkaian penyucian.
Selanjutnya, peserta mengikuti proses melukat melalui beberapa titik air yang memiliki pemaknaan masing-masing.
Tahap pertama, perenungan melalui air campuhan.
Air yang berada di kawasan pertemuan sungai dan laut menjadi bagian awal dari proses penyucian.
Dalam pemaknaan spiritual yang disampaikan kepada penulis, tahapan tersebut melambangkan upaya melepaskan kekotoran pikiran, sifat-sifat negatif, dan beban batin.
Peserta diajak merenungkan berbagai pengalaman hidup yang mungkin masih menyisakan kemarahan, kekecewaan, ataupun kegelisahan.
Bukan berarti air tersebut secara medis dapat menghilangkan persoalan psikologis, melainkan ritualnya menjadi sarana simbolis untuk membangun niat memperbaiki keadaan diri.
Tahap kedua, penyelarasan melalui sumber air jernih.
Setelah melalui tahapan awal, prosesi berlanjut menuju sumber air yang lebih jernih.
Dalam penafsiran spiritual setempat, kejernihan air menjadi lambang kejernihan pikiran dan ketulusan hati.
Manusia diajak memahami bahwa pikiran yang tenang dapat membantu seseorang memandang persoalan kehidupan dengan lebih bijaksana.
Tahap ketiga, prosesi pada titik air hangat.
Pada bagian berikutnya, pamedek diarahkan menuju titik air hangat.
Dalam pengalaman spiritual yang diceritakan Biyung AR, kehangatan tersebut dimaknai sebagai simbol munculnya kembali semangat kehidupan.
Unsur panas diasosiasikan dengan kekuatan untuk meninggalkan sifat-sifat negatif dan membangun keberanian menghadapi kehidupan.
Pemaknaan ini bersifat simbolis dalam tradisi ritual, bukan klaim bahwa air hangat dapat menyembuhkan trauma atau gangguan kesehatan tertentu.
Tahap keempat, penyucian melalui air sejuk.
Setelah melewati beberapa tahapan sebelumnya, peserta menuju titik air yang terasa lebih sejuk.
Kesejukan air menjadi lambang ketenteraman, keseimbangan, dan kedamaian hati.
Pada tahapan ini, peserta diajak memaknai bahwa ketenangan dapat tumbuh ketika manusia mampu mengendalikan pikiran, menjaga perilaku, serta berdamai dengan pengalaman hidupnya.
Rangkaian tersebut kemudian diakhiri melalui doa yang dipimpin pemangku.
Air suci, termasuk yang berasal dari sarana kelapa sebagaimana diceritakan penulis, menjadi bagian dari simbol kesucian dalam penutup ritual.
Keseluruhan tahapan memberikan pesan mengenai pentingnya menjaga kebersihan lahir, ketulusan batin, dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam semesta.
Bertemu Maha Guru Altreya Narayana, Sebuah Pengalaman yang Berkesan
Di luar rangkaian melukat, perjalanan Biyung AR bersama sahabat-sahabatnya dari Surabaya juga menghadirkan kesempatan untuk bertemu dan berbincang dengan Maha Guru Altreya Narayana.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan dalam perjalanan mereka.
Bagi Biyung AR, kesempatan berdialog dengan tokoh spiritual yang berkaitan dengan keberadaan Pura Campuhan Windu Segara memberikan ruang untuk memperluas pemahaman mengenai makna kehidupan dan tradisi penyucian diri.
Bukan sekadar mendatangi tempat ibadah dan mengikuti ritual, kunjungan tersebut juga dimanfaatkan untuk mendengarkan nasihat serta pandangan spiritual.
Dalam kehidupan yang sering diwarnai kesibukan dan berbagai persoalan, kesempatan untuk mendengarkan wejangan tentang ketenangan batin memiliki arti tersendiri bagi penulis.
Ia memandang pengalaman tersebut sebagai bagian dari perjalanan pribadi untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menumbuhkan rasa syukur.
Pertemuan itu juga meninggalkan kesan tentang pentingnya menghormati orang-orang yang menjaga serta mewariskan tradisi spiritual kepada generasi berikutnya.
Pura sebagai Ruang Pembelajaran Budaya dan Spiritual
Selain dikenal melalui tradisi melukat, Pura Campuhan Windu Segara juga memiliki pelinggih atau tempat pemujaan yang berkaitan dengan penghormatan kepada manifestasi Tuhan dalam ajaran Hindu.
Di lingkungan pura tersebut, menurut keterangan penulis, juga dikenal sejumlah pelaksanaan upacara keagamaan, termasuk Mesakapan Pasih, Metatah, Pujawali, dan Piodalan.
Masing-masing ritual memiliki tata cara, tujuan, dan kedudukan tersendiri dalam tradisi keagamaan.
Keberadaan berbagai aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa pura bukan hanya bangunan tempat persembahyangan, melainkan juga bagian dari ruang pelestarian adat, budaya, dan pengetahuan spiritual masyarakat Bali.
Biyung AR turut menyampaikan bahwa tempat ini memiliki daya tarik bagi pengunjung yang ingin mengenal tradisi penyucian diri.
Meskipun demikian, setiap pengunjung tetap perlu menghormati kesucian pura, mengikuti arahan pemangku, serta memperhatikan ketentuan mengenai siapa yang diperkenankan mengikuti ritual keagamaan tertentu.
Sikap menghormati tradisi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah kunjungan spiritual.
Perjalanan yang Mengajarkan Arti Ketenangan
Bagi Biyung AR dan rekan-rekannya, perjalanan dari Surabaya menuju Bali kali ini meninggalkan pengalaman yang lebih dalam daripada sekadar mengunjungi sebuah destinasi.
Ada kesempatan untuk mengenal tradisi. Ada ruang untuk merenungkan perjalanan hidup. Ada pula kebahagiaan karena dapat bertemu dan berbincang dengan Maha Guru Altreya Narayana.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa setiap perjalanan memiliki makna yang berbeda bagi orang yang menjalaninya.
Seseorang mungkin datang dengan berbagai persoalan dalam pikiran, sementara orang lain datang membawa rasa syukur ataupun keinginan untuk memahami tradisi leluhur.
Namun, semuanya dapat menemukan ruang perenungan sesuai dengan keyakinan dan pengalaman masing-masing.
Biyung AR berharap nilai-nilai luhur dalam tradisi penyucian diri dapat terus dijaga dan dipahami secara bijaksana.
Menurutnya, ketenangan tidak cukup hanya dicari melalui sebuah prosesi spiritual, tetapi juga perlu diwujudkan dalam sikap dan perilaku setelah seseorang kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Sebab, apa artinya menjalani penyucian diri apabila seseorang masih memelihara kebencian, menyakiti sesama, atau mengabaikan hubungan harmonis dengan lingkungan?
Di sinilah nilai perenungan menjadi penting.
Kesucian bukan semata-mata tentang air yang membasuh tubuh, melainkan juga tentang kesungguhan manusia untuk memperbaiki pikiran, perkataan, dan perbuatannya.
Pada akhirnya, perjalanan menuju Pura Campuhan Windu Segara memberikan satu pelajaran kehidupan bagi penulis: manusia membutuhkan waktu untuk mengenal dirinya sendiri, merawat ketenangan batin, dan mensyukuri setiap kesempatan yang diberikan Tuhan.
Dari pertemuan air sungai dan air laut, tersimpan pesan mengenai pentingnya keseimbangan.
Dari tradisi melukat, hadir ajakan untuk melakukan introspeksi diri.
Dan dari perjumpaan dengan sesama, manusia kembali diingatkan bahwa kehidupan akan lebih bermakna apabila dijalani dengan kerendahan hati, penghormatan, dan kasih sayang.
“Damai sekala niskala. Rahayu.”
Demikian harapan yang dibawa Biyung AR seusai menjalani perjalanan spiritualnya di Pulau Dewata.














