LABUHANBATU, [Gaperta.id] — Seorang Pemimpin Redaksi (Pemred) tidak hanya dituntut memiliki kemampuan dalam mengelola pemberitaan dan menentukan arah redaksi, tetapi juga harus memiliki karakter komunikasi yang sopan, beretika dan berwibawa, Senin (21/09/2026).
Hal tersebut disampaikan Albert Hutagaol, yang menilai bahwa gaya komunikasi seorang Pemred memiliki pengaruh besar terhadap budaya kerja di dalam redaksi, hubungan dengan narasumber, maupun tingkat kepercayaan publik terhadap media.
Menurut Albert, kemampuan berkomunikasi dengan baik bukan berarti seorang pemimpin harus selalu berbicara keras atau menunjukkan kekuasaan. Justru, kewibawaan seorang Pemred terlihat dari kemampuannya menyampaikan sikap dengan tegas tanpa merendahkan orang lain.
“Seorang Pemimpin Redaksi yang sopan, beretika baik dan berwibawa memiliki gaya komunikasi yang kuat. Ketegasan tidak harus disampaikan dengan kata-kata kasar. Justru komunikasi yang santun menunjukkan kualitas kepemimpinan,” ujar Albert.
Ia menjelaskan, ruang redaksi merupakan tempat yang penuh dengan dinamika. Perbedaan pendapat, tekanan waktu, tuntutan akurasi serta tanggung jawab terhadap kepentingan publik merupakan bagian dari pekerjaan jurnalistik sehari-hari.
Karena itu, menurutnya, Pemred harus mampu menjaga suasana kerja agar tetap profesional dan sehat.
Etika Menjadi Cermin Kepemimpinan
Albert mengatakan, etika komunikasi merupakan salah satu cerminan kualitas seorang pemimpin.
Cara seorang Pemred memberikan arahan, menerima kritik, berdiskusi dengan wartawan maupun berkomunikasi dengan pihak luar akan membentuk citra media yang dipimpinnya.
Seorang pemimpin redaksi, lanjutnya, sebaiknya mampu menjadi teladan bagi jurnalis di bawah koordinasinya, terutama dalam menjaga kesopanan, menghargai narasumber dan tidak menggunakan posisi media sebagai alat untuk menekan pihak tertentu.
“Pemred harus menjadi contoh. Kalau pemimpinnya menjunjung tinggi etika, wartawan juga akan belajar menjaga sikap ketika melakukan konfirmasi, wawancara maupun ketika menghadapi perbedaan pendapat,” katanya.
Menurut Albert, sikap sopan tidak mengurangi ketegasan seorang jurnalis. Sebaliknya, komunikasi yang terukur justru dapat membuat pertanyaan kritis lebih efektif dan membuka ruang bagi narasumber untuk memberikan penjelasan secara utuh.
Berwibawa Bukan Berarti Otoriter
Albert juga menekankan bahwa kewibawaan tidak identik dengan sikap otoriter.
Pemimpin yang berwibawa, menurutnya, mampu mendengar pendapat anggota redaksi, mempertimbangkan fakta secara objektif serta mengambil keputusan berdasarkan kepentingan jurnalistik dan kode etik.
Kritik dan evaluasi terhadap wartawan juga seharusnya disampaikan secara proporsional, bukan dengan mempermalukan atau merendahkan.
“Pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang bisa tegas dalam prinsip, tetapi tetap menghargai orang lain. Di situlah kewibawaan sebenarnya terlihat,” ujarnya.
Komunikasi Menentukan Kepercayaan Publik
Lebih jauh, Albert menyebut bahwa media hidup dari kepercayaan publik. Karena itu, setiap unsur redaksi, terutama Pemred, memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga citra dan kredibilitas lembaga pers.
Bahasa yang digunakan dalam komunikasi, baik secara langsung maupun melalui pemberitaan, harus tetap berada dalam koridor profesionalisme.
Ia menilai bahwa media yang kuat bukan hanya media yang berani mengkritik, tetapi juga media yang mampu menyampaikan kritik berdasarkan fakta, konfirmasi dan bahasa yang bertanggung jawab.
Menurutnya, ketajaman jurnalistik akan lebih bermakna apabila berjalan berdampingan dengan kesantunan dan integritas.
Pemred Harus Menjadi Penjaga Marwah Redaksi
Albert berharap setiap Pemimpin Redaksi mampu menempatkan dirinya sebagai penjaga marwah media.
Selain memastikan berita memenuhi prinsip akurasi dan keberimbangan, Pemred juga memiliki tanggung jawab membangun budaya komunikasi yang sehat di dalam organisasi.
Dengan komunikasi yang kuat, santun dan beretika, hubungan antara redaksi, wartawan, narasumber dan masyarakat dapat terjaga secara profesional.
“Media yang dipercaya publik lahir dari orang-orang yang mampu menjaga etika. Maka seorang Pemred harus berani, tegas, tetapi tetap santun. Sebab kewibawaan tidak dibangun dari suara yang keras, melainkan dari sikap, integritas dan cara kita menghargai orang lain,” tutup Albert Hutagaol.














